Kamis, 18 Maret 2010

Aktifitas dan Latihan

Mata Kuliah KDM II
Oleh : Almawin Susen, AMK

MOBILSASI DAN IMOBILISASI
PENGANTAR MEKANIKA TUBUH

Mekanika tubuh adalah suatu usaha mengkoordinasikan system musculoskeletal dan system saraf dalam mempertahankan keseimbangan , postur dan kesejajaran tubuh selama mengangkat , membungkuk ,bergerak, dan melakukan aktivitas sehari-hari . mekanika yang tepat dapat memfasilitasi pergerakan tubuh , memungkinkan mobilisasi tanpa terjadi peregangan otot dan penggunaan energi otot yang berlebihan .
Kesejajaran Tubuh
Kesejajaran tubuh dan postur merupakan istilah yang sama dan mengacu pada posisi sendi ,tendon,ligament, dan otot selama berdiri , duduk dan berbaring .

Keseimbangan Tubuh
Kesejajaran tubuh menopang keseimbangan tubuh .Tanpa keseimbangan , pusat gravitasi akan berubah , menyebabkan peningkatan gaya gravitasi , sehingga menyebabkan resiko jatuh dan cedera
Keseimbangan dapat diperoleh dengan dasar penopang yang luas , pusat gravitasi berada pada dasar penopang dan garis vertical dapat ditarik dari pusat gravitasi ke dasar penopang , keseimbangan tubuh juga dapat ditingkatkan dengan postur dan merendahkan pusat grvitasi yang dapat dicapai dengan posisi jongkok , semakin sejajar postur tubuh maka semakin besar keseimbangan ( Perry dan Potter ,1994)
Keseimbangan diperlukan untuk mempertahankan posisi , memperoleh kestabilan selama bergerak dari satu posisi ke posisi lain , melakukan aktivitas hidup sehari-hari dan bergerak bebas di komunitas . Kemampuan untuk mencapai keseimbangan dipengaruhi oleh penyakit , gaya berjalan yang tidak stabil, pada toddler , kehamilan ,medikasi dan proses menua . Gangguan pada kemampuan ini merupakan ancaman untuk keselamatan fisik dan dapat menyebabkan ketakutan pada terhadap keselamatan seseorang dengan membatasi diri dalam setiap aktivitas .

Koordinasi Gerakan Tubuh
Berat adalah gaya pada tubuh yang digunakan terhadap gravitasi . Ketika suatu objek diangkat , pengangkat harus menguasai objek dan mengetahui pusat gravitasinya .pada objek yang simetri pusat gravitasi berada tepat pada pusat objek .karena manusia tidak mempunyai bentuk geomtris sempurna , maka pusat gravitasinya biasa berada pada 55 % sampai 57 % tinggi badannya ketika berdiri dan berada di tengah . gaya berat selalu mengarah ke bawah hal ini menjadi alasan mengapa objek tidak seimbang itu selalu jatuh . Klien yang tidak stabil jatuh karena gravitasinya tidak seimbang , gaya gravitasi berat mereka yang akhirnya menyebabkan mereka jatuh . Oleh karena itu perawat perlu mengatur intervensi keperawatan yang melindungi klien dari jatuh dan menjamin keselamatannya .
Friksi adalah gaya yang muncul dengan arah gerakan yang berlawanan dengan gerakan benda .Jika perawat bergerak ,berpindah atau menggerakan klien di tempat tidur maka akan trjadi friksi . Perawat dapat mengurangi friksi dengan mengikuti beberapa prinsip dasar . Semakin besar area suatu objek yang bergerak , semakin besar friksi .Jika klien tidak mampu pindah sendiri ditempat tidur maka lengan klien diletakan menyilang di dada . Hal ini meminimalkan tubuh dan mengurangi friksi .
Klien pasif atau imobilisasi akan menghasilkan friksi yang lebih besar untuk bergerak , kemudian bila memungkinkan , perawat menggunakan kekuatan dan gerakan klien saat mengangkat , memindahkan atau menggerakan klien di atas tempat tidur ,hal ini dilakukan dengan penjelasan prosedur dan memberi tahu klien ketika klien akan bergerak .Hasilnya harus menjadi gerakan sinkron yang mana klien dapat berpartisipasi dan friksi dapat dikurangi
Friksi dapat juga dikurangi dengan mengangkat bukan mendorong klien . Mengangkat merupakan gerakan ke atas dan mengurangi tekanan antara klien dan tempat tidur atau kursi . Pemakaian sprei yang dapat ditarik mampu mengurangi friksi karena klien mudah bergerak di atas permukaan tempat tidur .


PENGARUH PATOLOGIS PADA KESEJAJARAN TUBUH DAN MOBILISASI
Kelainan postur
Kelainan postur yang didapat atau congenital mempengaruhi efisiensi system muskulokletal seperti kesejajaran tubuh , keseimbangan dan penampilan
Tortikolis adalah mencondongkan kepala kesisi yang sakit , di mana otot sternokleidomastoideus berkontraksi ,
Penyebab ; kondisi kongential atau didapat
Penatalaksanaan : operasi , pemanasan , topangan atau imobilsasi , berdasarkan penyebab dan tingkat keparahan
Lordosis adalah kurva anterior pada spinal lumbal yang melegkung berlebihan
Penyebab; kondisi kongential , kondisi temporer missal kehamilan
Penatalaksanaan ; latihan peregangan spinal ( berdasarkan penyebab )
Kifosis adalah peningkatan kelengkungan pada spinal torakal
Penyebab ; kondisi congenital , penyakit tulang , tuberkulsosis spinal
Penatalaksanaan ; latihan peregangan spinal , tidur tanpa bantal , menggunakn papan tempat tidur , memakai jacket ( berdasarkan penyebab dan tingkat keparahan )
Kifolordosis adalah kombinasi dari kifosis dan lordosis
Penyebab ; kondisi kongentital
Pentalaksanaan ; sama dengan metode yang digunakan untuk kifosis dan lordosis
Scoliosis adalah kurvatur spinal lateral , tinggi pinggul dan bahu tidak sama
Penyebab ; kondisi congenital ,poliomyelitis , paralysis spastic , panjang kaki tidak sama
Penatalksanaan ; imonilisasi dan operasi ( berdasarkan penyebab dan tingakt keparahan
Kifoskoliosis adalah tidak normalnya kurva spinal anteroposterior dan lateral
Penyebab ; kondisi congenital , poliomyelitis , kor pulmonal
Penatalaksanaan ; imobilisasi dan operasi
Displasia pinggul congenital adalah ketidakstabilan pinggul dengan keterbatasan abduksi pinggul dan kadang – kadang kontraktur adduksi ( kaput femur tidak bersambung dengan asetabulum )
Penyebab : kondisi congenital biasanya lahir sungsang
Penatalakasaanaan : ,mempertahankan adduksi paha yang terus –menerus sehingga kaput femur menekan ke bagian tengah asetabulum , pembedahan
Knock –knee ( genu valgum ) adalah kurva kaki yang masuk ke dalam sehingga lutut rapat jika seseorang berjalan
Penyebab ; congenital , penyakit tulang /ricket
Pentalaksaanaan ; operasi jika tidak diperbaiki oleh pertumbuhan
Bowlegs ( genu varum ) adalah satu atau dua kaki bengkok keluar pada lutut , kondisi ini normal pada usia dua sampai tiga tahun
Penyebab ; kongential , penyakit tulang / ricket
Penatalaksanaan ; meningkatkan vitamin D , kalsium dan fosfor
Clubfoot adalah 95 % : deviasi medial dan plantar fleksi kaki ( equinovarus ). 5 % deviasi lateral dan dorsofleksi ( calcaneovalgus )
Penyebab : kondisi congenital
Penatalaksanaan ; gips , operasi
Footdrop adalah plantar fleksi , ketidakmampuan menekuk kaki karena kerusakan saraf peroneal
Penyebab congenital , trauma , posisi imobilsasi yang tidak baik
Pentalaksanaan ; tidak ada
Pigeon – toes adalah rotasi dalam kaki depan , biasa pada bayi
Penyebab ; congenital , kebiasaan
Penatalaksanaan : pertumbuhan , menggunakan sepatu terbalik

Gangguan perkembangan otot
Distrofi muscular adalah sekelompok gangguan yang disebabkan oleh degenerasi serat otot skelet . prevalensi penyakit otot terbanyak pada anak , karakteristik distrofi muscular adalah progresif , kelemahan simteris dari kelompok otot skelet dengan peningkatan ketidakmampuan dan deformitas ( Mc Cance dan Huether , 1994 )

Kerusakan system saraf pusat
Kerusakan komponen system saraf pusat yang mengtur system pergerakan volunter mengakibatkan gangguan kesejajaran tubuh dan mobilisasi . jalur motorik pada serebrum dapat dirusak oleh trauma kepala , iskemia karena cedera serebrovaskuler ( stroke ) , atau infeksi bakteri karena meningitis . gangguan motorik langsung berhubungan jumlah kerusakan pada jalur motorik misalnya seseorang yang mengalami hemoragik serebral kanan disertai nekrosis total , mengakibatkan kerusakan jalur motorik kanan dan hemiplegi pada tubuh bagian kiri .walaupun seseorang dengan cedera kepala bagian kanan akan mengalami udema serebral dan kerusakan ( tetapi tidak menghancurkan) jalur motorik dengan terapi yang baik , pergerakan volunteer bagian kiri akan kembali secara bertahap .
Karena serat motorik volunteer turun dari jalur motorik serebrum bawah medulla spinalis , maka trauma medulla spinalis juga mengganggu mobilisasi. Trauma paling umum adalah transeksi medulla spinalis yang serat motorik terpotong . trauma ini menyebabkan kehilangan control motorik bilateral pada bagian bawah trauma . Trauma medulla spinalis diakibatkan dari kecelakaan menyelam, mobil atau tertembak atau luka tusuk pada leher dan punggung


Trauma langsung pada system
Muskuloskletal
Trauma langsung pada system musculoskeletal menyebabkan memar , kontusio , salah urat , dan fraktur . Fraktur adalah terputusnya konutinuitas jaringan tulang . Jika fraktur mengalami penyembuhan ,tulang mulai membaik , tulang yang frakutr diawali dengan proses seluler yang menghasilkan pembentukan tulang . Anak lebih mudah mengalami penyembuhan dari pada orang dewasa , dan hasilnya lebih sedikit mengalami komplikasi setelah fraktur . Penatalaksanaan meliputi mengembalikan posisi tulang pada kesejajarannya dan memobilsasi tulang untuk mendukung penyembuhan serta mengembalikan fungsi . Imobilisasi menyebabkan beberapa otot mengalami atrofi , kehilangan tonus dan kekauan sendi
GANGGUAN MOBILISASI
Mobilisasi mengacu pada kemampuan seseorang untuk bergerak bebas dan imobilisasi mengacu pada ketidakmampuan seseorang untuk bergerak dengan bebas.
Tirah baring
Adalah suatu intervensi di mana klien dibatasi untuk tetap berada di tempat tidur untuk tujuan terapeutik . Tirah baring mempunyai tujuan yang berbeda-beda di antara perawat , dokter dan tim kesehatan lainnya .
Tujuan utama tirah baring
Mengurangi aktivitas fisik dan kebutuhan oksigen untuk tubuh
Mengurangi nyeri , meliputi nyeri pasca operasi dan kebutuhan analgesic dengan dosis besar
Memungkinkan klien sakit atau lemah untuk beristrahat dan mengembalikan kekuatan
Memberi kesempatan pada klien yang letih untuk beristrahat tanpa terganggu

Imobilisasi
Gangguan mobilitas fisik ( imobilisasi ) didefenisikan oleh NANDA sebagai suatu keadaan ketika individu mengalami mengalami atau beresiko mengalami keterbatasan gerak fisik ( Kim et al,1995 )

Pengaruh fisiologi
Apabila ada perubahan mobilisasi , maka setiap system tubuh beresiko mengalami gangguan .tingkat keparahan dari gangguan tersebut tergantung pada umur klien , dan kondisi kesehatan secara keseluruhan serta tingkat imobiisasi yang dialami ,misalnya perkembangan pengaruh imobilisasi lansia berpenyakit kronik lebih cepat dibandingkan klien yang lebih muda ( Perry dan Potter, 1994 )

Imobilisasi

Peningkatan Asupan nutrisi akibat
atrofi otot/
Kelemahan anoreksi dan pembatasan


Kehilangan masa keseimbangan
Nitrogen
lebih lanjut negatif





Perubahan
Metabolic
System endokrin , merupakan produksi hormone –hormon – sekresi kelenjar , membantu memperthankan dan mengatur fungsi vital seperti : 1) respons terhadap stress dan cedera , 2) pertumbuhan dan perkembangan , 3) reproduksi , 4) homeostasis ion dan 5) metabolisme energi . ketika stress dan cedera terjadi , system ensokrin memicu serangkaian respons yang bertujuan mempertahankan tekanan darah dan memelihara hidup .hormon tiroid meningkatkan laju metabolisme basal ( basal metabolic rate, BMR ) dan energi dibuat sehingga dapat dipakai sel-sel melalui integrasi kerja antara hormone gastrointestinal dan pancreas ( Price dan Wilson , 1992 ) , imobilisasi mengganggu fungsi metabolic normal antara lain laju metabolic, metabolisme karbohidrat , lemak dan protein , ketidakseimbangan cairan dan elektrolit , ketidakseimbangan kalsium , dan gangguan pencernaan . keberadaan prosese infeksius pada klien imobilisasi mengalami peningkatan BMR karena demam dan penyembuhan luka . Demam dan penyembuhan luka meningkatkan kebutuhan oksigen seluler ( Mc Cance da Huether , 1994 ) ,
Defisiensi kalori dan protein merupakan karakterisik klien yang mengalami imobilisasi . protein disentis dan diubah menjadi asam amino dalam tubuh untuk dibentuk kembali menjadi protein lain secara konstan . asam amino yang tidak digunakan akan dieksresikan .Tubuh dapat mensitesis asam amino tertentu ( non esensial ) tetapi tergantung protein yang dikonsumsi untuk menyediakan delapan asam amino esensial . jika lebih banyak Nitrogen ( produk akhir asam amino ) yang dieskresikan daripada yang dimakan dalam bentuk protein ,maka tubuh dikatakan mengalami keseimbangan Nitrogen negative dan kehilangan berat badan , penurunan otot dan kelemahan akibat katabolisme jaringan . Kehilangan protein menunjukan penurunan masa otot terutama pada hati ,jantung , peru-paru dan saluran pencernaan serta system kekebalan ( long et al ,1993)
Ekskresi kalsium dalam urine ditingkatkan melalui resorbsi tulang . imobilisasi menyebabkan pelepasan kalsium ke dalam sirkulasi .Dalam keadaan normal ginjal dapat mengekskresi kelebihan kalsium . Jika ginjal tidak berespon dengan tepat maka terjadi hiperkalsemia ( Holm , 1989 )
Gangguan fungsi gastro intestinal bervariasi dan mengakibatkan penurunan motilitas saluran gastrointestinal .Konstipasi merupakan gejala umum, diare sering terjadi akibat impaksi fekal .Perawat harus waspada terhadap penemuan seperti ini, yaitu bukan diare yang normal , tetapi lebih cair faeses yang berjalan melalui area yang terjepit . Jika dibiarkan tidak ditangani , impaksi fekal dapat mengakibatkan obstruksi usus mekanik sebagian atau secara keseluruhan yang menyumbat lumen usus , menutup dorongan normal ari cairan dan udara . Akibat adanya cairan dalam usus menimbulkan distensi dan peningkatan tekanan intraluminal , selanjutnya fungsi usus menjadi tertekan , terjadi dehidrasi , terhentinya absorbsi dan gangguan cairan dan elektrlit semakin memburuk .

Perubahan
system respiratori
Klien pasca operasi dan imobilisasi beresiko tinggi mengalami komplikasi paru –paru . Komplikasi paru-paru yang umum adalah atelektasis dan pneumonia hipostatik . Pada atelektasis bronkiolus menjadi tertutup oleh adanya sekresi dan kolaps alveolus distal karena adanya udara yang diabsorbsi , sehingga menghasilkan hipoventilasi . Bronkus utama dan bebrapa bronkiolus kecil dapat terkena . Pneumonia hipostatik adalah peradangan paru-paru akibat adanya stasis sekresi . Atelektasis dan pneumonia hipostatik , keduanya sama-sama menurunkan oksigenasi , memperlama penyembuhan dan menambah ketidaknyamanan klien ( Long et al , 1993 )




Perubahan system
Kardiovaskular
Ada 3 perubahan utama :
1. hipotensi ortostatik
adalah penurunan tekanan darah sistolik 25 mmHg ketika klien bangun dari posisi berbaring atau duduk ke posisi berdiri .pada klien imobilisasi , terjadi penurunan sirkulasi volume cairan , pengumpulan darah pada ekstremitas bawah , dan penurunan respons otonom .faktor –faktor tersebut mengakibatkan penurunan aliran balik vena , diikuti penurunan curah jantung yang terlihat pada penurunan tekanan darah ( Mc Cance and Huether , 1994 ) .
jika beban kerja jantung meningkat maka konsumsi oksigen juga meningkat .oleh karena itu jantung bekerja lebih keras dan kurang efisien selama masa istrahat yang lama .
klien juga beresiko terjadi pembentukan thrombus .trombus adalah akumulasi trombosit , fibrin, factor-faktor pembekuan darah dan elemen –elemen sel darah yang menempel pada bagian anterior vena atau arteri ,kadang-kadang menutup lumen pembuluh darah ,. Ada tiga factor yang menyebabkan pembentukan thrombus;1). Hilangnya integritas pembuluh darah ( mis; aterosklerosis ),2) kelainan aliran darah ( mis; aliran darah vena yang lambat akibat tirah baring .3) perubahan unsure-unsur darah ( mis; perubahan dalam factor pembekuan darah .( Mc Cance and Huether ,1994 )

Perubahan system
Muskuluskeletal
Pengaruh otot
akibat pemecahan protein , klien mengalami kehilangan masa tubuh , yang membentuk bagian otot . masa otot turun karena metabolisme dan tidak digunakan . jika imobilisasi berlanjut dan otot tidak dilatih maka akan terjadi penurunan masa yang berkelanjutan .penurunan mobilisasi dan gerakan mengakibatkan kerusakan muskuluskletal yang besar , perubahan patofisiliogi utamanya adalah atrofi . atrofi adalah suatu keadaan yang dipandang secara luas sebagai respon terhadap penyakit dan penurunan aktivitas sehari-hari , seperti pada respons imobilisasi dan tirah baring ( Kasper et al, 1993 )

pengaruh skelet
imobilsasi menyebabkan dua perubahan utama terhadap skelet : gangguan metabolisme kalsium dan kelainan sendi .karena imobilisasi berakibat pada reasorpsi tulang , sehingga jaringan tulang menjadi kurang padat dan terjadi osteoporosis ( Hom, 1989 ) . apabila terjadi osteoporosis maka maka klien beresiko terjadi fraktur patologis .
imobilsasi dapat menyebabkan kontraktur sendi . kontraktur sendi adalah kondisi abnormal dan biasa permanent yang ditandai sendi fleksi dan terfiksasi . hal ini disebabkan tidak digunakannya , atrofi dan pemendekan serat otot . jika terjadi kontraktur maka sendi tidak dapat mempertahankan rentang gerak normal

Perubahan system
Integument
Dekubitus terjadi akibat iskemia dan anoksia jaringan .jaringan yang tertekan darah membelok dan konstriksi kuat pada pembuluh darah akibat tekanan persisten dan struktur di bawah kulit , sehingga respirasi seluler terganggu dan sel menjadi mati ( Ebersole dan Hess 1994 )

Perubahan eliminasi
Urin
Pada posisi tegak lurus urin mengalir kluar dari pelvis ginjal lalu masuk ke dalam ureter dan kandung kemih akibat gaya gravitasi . jika klien dalam posisi recumbent atau datar , ginjal dan ureter membentuk garis datar seperti pesawat .ginjal yang membentuk urine harus masuk ke dalam kandung kemih melawan gaya gravitasi . akibat konstriksi ureter yang tidak cukup kuat melawan gravitasi , pelvis ginjal menjadi terisi sebelum urine masuk ke dalam ureter . kondisi ini disebut stasis urine dan meningkatkan resiko infeksi saluran perkemihan dan batu ginjal . batu ginjal adalah batu kalsium yang terdapat dalam pelvis ginjal dan melewati ureter. Klien imobilisasi beresiko mengalami batu ginjal karena gangguan metabolisme kalsium dan akibat hiperkalsemia ( Holm, 1989 ) sejalan dengan masa imobilsasi yang berlanjut , asupan cairan yang terbatas , dan penyebab lain seperti demam , akan meningkatkan resiko dehidrasi . akibatnya haluaran urine menurun sekitar hari kelima dan keenam . pada umunya urine yang diproduksi berkonsetrasi tinggi
Urine yang pekat ini meningkatkan resiko terjadi batu ginjal dan infeksi . perawatan perineal yang buruk setelah defekasi , terutama pada wanita , meningkatkan resiko kontaminasi saluran perkemihan oleh bakteri Escherechia coli.penyebab lain infeksi saluran perkmihan pada pasien imobilisasi adalh pemakaian keteter urine menetap.

PROSES KEPERAWATAN UNTUK GANGGUAN KESEJAJARAN TUBUH DAN MOBILISASI
PENGKAJIAN
Pengkajian keperawatan dilihat dari dua bagian mobilisasi dan imobilisasi
MOBILISASI
Pengkajian mobilisasi klien berfokus pada rentang gerak , gaya berjalan , latihan dan toleransi aktivitas
Rentang gerak
Rentang gerak merupakan jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh : frontal, sagital dan transversal. Potongan sagital adalh garis yang melewati tubuh dari depan ke belakang membagi tubuh menjadi bagian kiri dan kanan .potongan frontal melewati tubuh dari sisi ke sisi dan membagi tubuh menjadi bagian depan dan belakang .potongan transversal adalah garis horizontal yang membagi tubuh menjadi bagian atas dan bawah
Mobilisasi di setiap potongan dibatasi oleh ligament , otot dan kontstruksi sendi . pada potongan sagital gerakannya adalah fleksi dan ekstensi ( jari –jari tangan dan siku ) dan hiperekstensi (pinggul). Pada potongan frontal gerakanya adalah adduksi dan abduksi ( lengan dan tungkai dan eversi dan inverse ( kaki) . pada potongan transversal gerakannya adalah pronasi dan supinasi ( tangan ) , rotasi eksternal dan internal ( lutut ) dan dorsi fleksi dan plantar fleksi ( kaki )
Ketika mengkaji rentang gerak , perawat menanyakan pertanyaan dan mengobservasi dalam mengumpulkan data tentang kekakuan sendi , pembengkakan ,nyeri ,keterbatasan gerak dan gerakan yang tidak sama . klien yang memiliki keterbatasan dalam mobilsasi sendi karena penyakit , ketidak mampuan dan atau trauma membutuhkan latihan sendi untuk mengurangi bahya mobilisasi . latihan tersebut dilakukan oleh perawat yaitu laithan rentang gerak pasif. Perawat menggunakan setiap sendi yang sakit melalui rentang gerak penuh


Latihan rentang gerak

Bagian tubuh Tipe sendi Tipe gerakan Rentang derajat Otot-otot utama
Leher spina servikal





Bahu
















Siku


Lengan bawah

Pergelangan tangan










Jari-jari tangan











Ibu jari











Pinggul
















Lutut



Mata kaki




Kaki

Jari-jari kaki Pivotal ( putar )





Ball and socket















Hinge


Pivotal


Kondiloid











Condiloid
Hinge











Pelana











Ball and socket















Hinge



Hinge




Gliding

condiloid


Fleksi
Ekstensi
Hiperekstensi
Fleksi lateral
Rotasi


Fleksi


Ekstensi
Hiperekstensi

Abduksi

Adduksi
Rotasi dalam


Rotasi luar

Sirkumduksi


Fleksi
Ekstensi

Supinasi
Pronasi

Fleksi

Ekstensi


Hiperekstensi


Abduksi
Adduksi


Fleksi

Ekstensi


Hiperekstensi



Abduksi
Adduksi


Fleksi

Ekstensi


Abduksi

Adduksi


Oposisi

Fleksi

Ekstensi

Hiperekstensi

Abduksi

Adduksi

Rotasi dalam

rotasi luar

Sirukmduksi


Fleksi

Ekstensi

Dorsifleksi

Plantar fleksi


Inverse
Eversi
Fleksi
Ekstensi
Abduksi
Adduksi 45
45
10
40-45
180


180


180
45-60

180

320
90


90

360


150
150

70-90
70-90

80-90

80-90


80-90


30
30-50


90

90


30-60



30
30


90

90


30

30




90-120

90-120

30-50

30-50

30-50

90

90




120-130

120-130

20-30

45-50


10/kurang
10/kurang
30-60
30-60
15/kurang
15/kurang Sternokleidomastoid
Trapezius
Trapezius
Strenoleidomastoid
Sternokleidomastoid Trapezius


Korakobrakhialis, bisep, deltoid, pektoralis mayor

Latisiumus,dorsi,teres,mayor,deltoid
Latisimus dorsi, teres mayor, deltoid

Deltoid,supraspinatus,

Pektoralismayor
Pektoralis mayor,latisimus dorsi, subskapularis

Infraspinatus, teres mayor, deltoid

Deltoid, korakobrakialis,latisimus dorsi, teres mayor

Bisep brakhii,brakhialis
Trisep brakhii

Supinator,bisepbrakhii
Pronator teres, pronator quadratus

Fleksor karpi ulnaris,fleksor carpi radialis

Ekstensor karpiulnaris,ekstensor karpiradialis,ekstensor karpiradialislongus

Ekstensor karpiradialis brevis,ekstensor karpiradialislongus ,ekstensor karpiulnaris

Fleksor karpiradialis,ekstensor karpiradialis brevos, ekstensor karpiradialis longus

Fleksor karpiulnaris,ekstensorcarpiulnaris

Lumbrikales,interosseus volaris ,interosseus dorsalis

Ekstensor digiti quinti proprius,ekstensordigittorum kommunis,ekstensor indicis proprius

Introsseus dorsalis
Introsseus volaris

Fleksor pollisis brevis

Ekstensor pollisis longus,ekstensor pollisis brevis

Abuktor pollisis brevis

Abductor pollisis obliquus, abductor pollisistransversus

Opponeus pollisis ,oppneus digiti minimi

Psoas mayor

Gluteus maksmus,

Gluteus maksimus

Gluteus medius

Adductor longus

Gluteus medius

Obturatorius internus

Psoas mayor


Bisep femoris

Rektus femoris

Tibilais anterior

Gastroknemus


Tibilais anterior
Peroneus brevis
Fleksor digitorum
Ekstensor digitorum
Abductor halusis
Adductor halusis




Gaya berjalan
Digunakan untuk menggambarkan cara utama atau gaya ketika berjalan ( Fish dan Nielsen , 1993 )
postur
keamanan
kemampuan berjalan tanpa bantuan
Latihan dan Toleransi aktivitas
Pengaruh latihan
system kardiovasuker
meningkatkan curah jantung
memperbaiki kontraksi miokardial
menguatkan otot jantung
menurunkan tekanan darah istrahat
memperbaiki aliran balik vena

system respiratori
meningkatkan freksuensi dan kedalaman pernapasan diikuti oleh laju istrahat dan kembali lebih cepat
meningkatkan ventilasi alveolar
menurunkan kerja pernapasan
meningkatkan pengembangan diafragma

system metabolic
meningkatkan laju metabolisem basal
meningkatkan penggunaan glukosa dan asam lemak
meningkatkan pemecahan trigliserida
meningkatkan motilitas lambung
meningkatkan produksi panas tubuh

system musculoskeletal
memperbaiki tonus otot
meningkatkan mobilsasi sendi
memperbaiki teleransi otot untuk latihan
meningkatkan massa otot
mengurangi kehilangan tulang

toleransi aktivitas
meningkatkan toleransi
mengurangi kelemahan
system psikososial
menigkatkan toleransi terhadap stress
melaporkan perasaan lebih baik
melaoprkan pengurangan penyakit
Toleransi aktivitas adalah jenis dan jumlah latihan atau kerja yang dapat dilakukan oleh seseorang . pengkajian toleransi aktivitas diperlukan jika ada perencanaan aktivitas seperti jalan , latihan rentang gerak atau aktivitas sehari-hari dengan penyakit akut atau kronik . pengkajian toleransi aktivitas meliputi data fisiolgi , emosional dan tingkat perkembangan
factor factor yang mempengaruhi toleransi akivitas
a. faktor fisilogi
frekuensi penyakit
tipe penyakit atau operasi dalam 12 bulan terakhir
Status kardiopulmonar mis nyeri dada
Status musculoskeletal mis penurunan masa otot
Pola tidur
Pengontrolan nyeri
Tanda – tanda vital : , frekuensi pernapasan dan nadi kembali ke tingkat istrhat dalam lima menit setelah latihan , tekanan darah kembali seperti semula dalam 5-10 menit setelah latihan
Tipe dan frekuensi latihan
Kelainan hasil laboratotium; . penurunan kadar Hb
b. Factor emosional
suasana hati ( mood ); depresi , cemas
motivasi
ketergantungan zat kimia
gambaran diri ‘
c. Factor perkembangan
usia
jenis kelamin
perubahan masa otot
perubahan skeletal

Kesejajaran Tubuh
Berdiri
Duduk
Berbaring

IMOBILISASI
Faktor Fisiologi
System metabolic
System respiratory
System kardiovaskuler
System muskuloskletal
System integument
System eliminasi
Faktor Psiksosial
Faktor Perkembangan

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Contoh diagnosa kepererawatan NANDA untuk ketidaktepatan mekanika tubuh dan hambatan mobilisasi
1. intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan
kesejajaran tubuh yang buruk
penurunan mobilisasi
2. resiko cedera berhubungan dengan :
ketidaktepatan mekanika tubuh
ketidaktepatan posisi
3. hambatan mobilisasi fisik b/d
penurunan rentang gerak
tirah baring
penurunan kekuatan
4. ketidkefektifan pola napas b/d
ketidaktepatan posisi tubuh
penunumpukan sekresi paru
penurunan pengembangan paru
5. ketidakefektifan bersihan jalan napas b/d
stasis sekresi paru
ketidaktepatan posisi tubuh
6. gangguan pertukaran gas b/d
pola napas tidak simetris
penurunan pengembangan paru
7. gangguan integritas kulit atau resiko gangguan b/d
keterbatasan mobilisasi
tekanan permukaan kulit
gaya gesek
8. gangguan eliminasi urin b/d
keterbatasan mobilisasi
retensi urin
risiko infeksi
9. risiko infeksi yang b/d
stasis sekresi paru
stasis urin
gangguan integritas kulit
10. inkontinensia total b/d
perubahan pola eliminasi
keterbatasan mobilisasi
11. resiko kekurangan volume cairan b/d
penurunan asupan cairan
12. ketidak efektifan koping individu b/d
isolasi social
13. gangguan pola tidur b/d
ketidaknyamanan
keterbatasan mobilisasi

PERENCANAAN
Contoh rencana asuhan keperawatan untuk hambatan mobilisasi fisik
Diagnosa keperawatan ; hambatan mobilisasi fisik b/d nyeri bahu kiri
Tujuan Hasil yang diharapkan Intervensi Rasional
Klien akan mencapai rentang gerak normal ( fleksi dan ekstensi 180 o)pada bahu kiri selama empat bulan Klien akan memperatahankan rentang gerakan pada ekstremitas atas

Klien akan menunjukan aktivitas perawatan diri menggunakan lengan kiri selama 2 hari

Klien akan mengikuti program latihan secara teratur pada saat pulang Tawarkan pemberian analgesic 30 menit sebelum latihan rentang gerak

Ajarkan klien latihan rentang gerak spesifik pada bahu dan lengan kiri

Buat jadwal latihan aktif diantara waktu makan dan mandi Aktivitas analgesic akan maksimal pada saat klien memulai latihan


Pendidikan memberikan klien kesempatan dan pengetahuan untuk menjaga dan meningkatkan rentang gerak
Hal ini akan mendukung frekuensi latihan pada sendi yang terkena dan mengurangi resiko kontrsktur ( Lehkmul et al 1990)

Rencana keperawatan didasari oleh satu atau lebih tujuan berikut ini
1. mempertahankan kesejajaran tubuh yang tepat
2. mencapai kembali kesejajaran tubuh yang tepat ataupun pada tingkat optimal
3. mengurangi cedera pada system kulit dan system muskuloskletal
4. mencapai ROM penuh
5. mencegah kontrtaktur
6. mempertahankan kepatenan jalan napas
7. mencapai ekspansi paru optimal
8. memobilisasi sekresi jalan napas
9. mempertahankan fungsi kardio vaskuler
10. meningkatkan toleransi aktivitas
11. mencapai pola eliminasi normal
12. mempertahankan pola tidur normal
13. mencapai sosialisasi
14. mencapai kemandirian penuh dalam aktivitas perawatan diri
15. mencapai stimulasi fisik dan mental

IMPLEMENTASI
Memindah Dan Menata Posisi Klien
Di Atas Tempat Tempat Tidur
Menaikan posisi klien yang melorot
Ke atas tempat tidur
pengertian
menempatkan kembali posisi klien yang melorot ke bagian bawah di atas tempat tidur pada posisi semula .
Tujuan
1. Memenuhi kebutuhan pengaturan posisi yan sesuai /tepat
2. Memberikan rasa nyaman
Persiapan alat
1. rekstot gantung ( overhead trapeze )
2. sarung tangan ( jika perlu )
Prosedur pelaksanaan
1. Atur tempat tidur
a. Atur baian kepala tempat tidur pada posisi datar atau serendah mungkin yang mampu ditoleransi oleh klien
memperkecil pengaruh gaya gravitasi
b. Naikan tempat tidur setinggi pusat gravitasi anda
c. Kunci semua roda tempat tidur dan naikan pagar tempat tidur pada posisi yang jauh dari anda
d. Ambil semua bantal , kemudian letakan salah satu bantal di atas kepala tempat tidur
melindungi kepala klien dari kemungkinan cedera yang tidak disengaja akibat terbentur dari kepala tidur saat dipindahkan
2. Persiapkan klien , minta klien
a. Melakukan fleksi pinggul dan lutut , menumpukan telapak kaki di atas permukaan tempat tidur
Mengurangi gesekan dengan permukaan tempat tidur dan dapat memberikan tambahan tenaga dorongan
b. Berpegangan kepala tempat tidur dengan kedua tangan dan menarik pada saat dipindahkan ,atau
c. Berpegangan pada rekstok gantung dengan kedua tangan , kemudian mengangkat dan menarik pada saat dipindahkan
Memberikan bantuan tenaga dan mengurangi gesekan pada saat dipindahkan
3. Atur posisi anda dan pindahkan klien
a. Berdiri di samping klien dengan wajah menghadap kea rah pergerakan , lebarkan kedua kaki , satu kaki di depan dan kaki lainnya di belakang . dengan tubuh condong ke depan , fleksikan pinggul , lutut dan pergelangan kaki
b. Letakan satu tangan di bawah paha klien dan tangan lainnya di bawah scapula
c. Tegangkan otot-otot gluteal , abdominal ,kaki dan lengan .kemudian pindahkan /gerakan klien ke atas sambil klien mendorong dengan telapak kaki dan menarik dengan kedua tangan pada bagian kepala tempat tidur atau rekstok gantung
4. Pastikan klien merasa nyaman dengan posisi yang anda berikan
5. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
6. Dokumentasikan semua tindakan yang anda berikan


Memindahkan posisi klien di tepi
Tempat tidur
Pengertian
Menempatkan posisi klien berada pada tepi tempat tidur dari posisi di tengah tempat tidur
Tujuan
1. Memenuhi kebutuhan pengaturan posisi yang sesuai dan tepat
2. Untuk prosedur selanjutnya ( mendudukan di tepi tempat tidur , mentransfer tempat tidur
Persiapan Alat
sarung tangan jika perlu
Prosedur Pelaksanaan
1. Atur tempat tidur
a. Atur bagian kepala tempat tidur pada posisi datar
b. Naikan tempat tidur setinggi pusat gravitasi anda
c. Kunci semua roda tempat tidur dan naikan pagar tempat tidur pada posisi yang jauh dari anda
d. Ambil semua bantal
2. Atur posisi anda dan posisi klien secara tepat
a. Berdiri di samping tempat tidur sedekat mungkin dengan klien menghdap kea rah pergerkan
b. Letakan kedua tangan klien menyilang di atas dadanya
Mengurangi gesekan saat dipindahkan
c. Flekiskan lutut ,pinggul , dan pergerakan kaki dan dengan punggug condong ke depan . Lebaran kaki , satu di depan dan satu di belakang
3. Pindahkan kepala klien dan dada klien
a. Letakan kedua tangan di bawah scapula klien dengan telapak tangan menghadap ke atas
b. Fleksikan jari-jari tangan anda , dan letakan siku bertumpu pada permukaan tempat tidur
c. Jika klien tidak mampu mengangkat lehernya , letakan salah satu tangan anda di bawah leher klien
d. Tegangkan otot –otot gluteal , abdominal dan kaki serta lengan , setelah itu pindahkan dan gerakan bahu klien menuju kea rah anda dengan memindahkan berat dari kaki depan ke kaki belakang
4. Memindahkan pantat klien
a. Letakan kedua lengan dan tangan anda merapat di bawah pantat klien
b. Tarik pantat klien ke arah anda dengan gerakan seperti prosedur di atas
5. Memindahkan klien
a. Letakan kedua lengan dan tangan anda merapat di bawah tumit
b. Tarik kaki ke arah anda dengan gerakan yang sama
6. Naikan / pasang pagar tempat tidur di samping klien
7. Pastikan klien merasa nyaman dengan posisi yang anda berikan
8. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan anda
9. Dokumntasikan semua tindakan anda

Mengatur posisi klien pada posisi duduk
Di atas tempat tidur
Pengertian
Menempatkan klien pada posisi duduk di atas tempat tidur
Tujuan
1. Memenuhi kebutuhan pengaturan posisi yang tepat
2. Untuk persiapan prosedur perawatan berikutnya ( memberikan makan ,minum , hygiene personal dan sebagainya )
Persiapan
Sarung tangan jika perlu
Prosedur pelaksanaan
1. Atur tempat tidur
a. Atur bagian kepala tempat tidur pada posisi datar
b. Naikan kepala tempat tidur setinggi pusat gravitasi anda
c. Kunci semua roda tempat tidur pada posisi yang jauh dari anda
2. Atur posisi anda dan posisi klien secara tepat
a. Berdiri di samping tempat tidur , di sisi pantat klien menghadap kea rah kepala tempat tidur . Lebarkan kaki anda dengan salah satu kaki di depan dan jadikan kaki ini sebagai tumpuan berat badan
b. Minta klien untuk meletakan kedua tangan di sisi tubuhnya dengan telapak tangan menghadap di atas permukaan tempat tidur
menambah kekuatan saat diangkat , klien dapat mendorong tubuhnya dengan kedua tangan di atas tempat tidur
3. Angkat klien pada posisi duduk
a. Letakan salah satu tangan di bawah klien
b. Letakan tangan yang lainnya di atas tempat tidur , dan gunakan untuk mendorong pada saat mengangkat
c. Minta klien untuk turut mengangkat secara bersamaan dengan anda , dengan mendorongkan kedua tangannya di atas permukaan tempat tidur ,angkat dengan menarik bahu klien menggunakan tangan dan lengan anda , mendorongkan tangan anda yang satunya di atas permukaan tempat tidur dan pindahkan berat badan anda dari kaki depan ke kaki belakang
4. Pastikan klien merasa nyaman dengan posisi yang anda berikan
5. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
6. Dokumentasikan semua tindakan



Memindahkan Klien Pada Posisi Duduk
Di Tepi Tempat Tidur
Pengertian
Menempatkan posisi klien berada pada posisi duduk di tepi tempat tidur
Tujuan
1. Agar terpenuhi kebutuhan pengaturan posisi yang sesuai / tepat
2. Untuk persiapan prosedur perawatan berikutnya ( mentransfer klien ke kursi roda , ambulasi )
Persiapan alat
Sarung tangan jika perlu
Prosedur pelaksanaan
1. Atur tempat tidur
a. Atur bagian kepala tempat tidur
b. Naikan tempat tidur setinggi gravitasi anda
c. Kunci semua roda tempat tidur dan naikan pagar tempat tidur pada sisi yang jauh dari anda
d. pindahkan semua bantal
2. Atur posisi anda dan naikan posisi kepala secara tepat
a. Naikan kepala tempat tidur secara perlahan sampai pada posisi setengah duduk / duduk penuh
b. Berdiri disamping tempat tidur , di sisi pinggul klien menghadap ke arah kaki tempat tidur . lebarkan kaki anda , dengan salah satu kaki di depan . sondongkan tubuh anda di depan , fleksikan pinggul , lutut dan pergelangan kaki
3. Angkat klien pada posisi duduk
a. Letakan salah satu tangan pada bahu klien
b. Letakan tangan yang lainnya di bawah kedua paha dengan dengan lutut
c. Tegangkan otot gluteal , abdominal ,kaki , dan lengan
d. Angkat paha klien secara perlahan
e. Putar kaki klien kea rah anda , sampai kedua kaki menjuntai dari tempat tidur sedangkan tangan yang satunya memegang bahu klien
f. Tetap pegangi klien hingga klien memperoleh keseimbangan dan kenyamanan
4. Pastikan klien merasa nyaman dengan posisi yang diberikan
5. Lepaskan sarung tangan anda dan cuci tangan
6. Dokumentasikan semua tindakan

Memindahkan Klien Dari
Tempat Tidur Ke Kursi Roda
Pengertian
Memindahkan klien dari atas tempat tidur ke kursi roda untuk menjalani prosedur atau tindakan tertentu
Tujuan
a. Menjalani prosedur perawatan tertentu
b. Dipindahkan ke tempat atau ruangan tertentu
persiapan alat
a. Sarung tangan
b. Kursi roda
prosedur pelaksanaan
1. Atur peralatan dengan tepat
a. Rendahkan posisi tempat tidur sampai pada posisi yang terendah sehingga kaki klien dapat menyentuh lantai . kunci semua roda tempat tidur
b. letakan kursi roda sejajar dan sedekat mungkin dengan tempat tidur . kunci semua roda kursi roda
2. siapkan dan kaji klien
a. Bantu klien pada posisi duduk di tepi tempat tidur
b. Kaji klien , apakah mengalami hipotensi postural sebelum memindahkannya dari tempat tidur
3. Berikan instruksi yang jelas pada klien . minta klien untuk
a. Bergerak ke depan dan duduk di tepi tempat tidur
agar pusat gravitasi klien dekat dengan perawat
b. Condongkan badan ke depan mulai dari pinggul
menyiapkan posisi dada dan kepala pada arah pergerakan dan membawa pusat gravitasi klien secara langsung di atas landasan
c. Letakan kaki yang kuat di bawah tepi tempat tidur , sedangkan kaki yang lemah berada di depannya
dengan cara ini , klien dapat menggunakan kaki yang lebih kuat untuk berdiri dan menggunakan kekuatan pada pergerakan
d. Letakan tangan klien di atas permukaan tempat tidur atau di atas kedua bahu perawat sehingga klien dapat mendorong tubuhnya sambil berdiri
memberikan kekuatan tambahan untuk pergerakan dan mengurangi kemungkinan terjadinya strain pada perawat
( catatan : klien perlu diberi penjelasan untuk tidak meletakan kedua tangan pada leher perawat karena dapat menyebabkan cedera pada perawat )
4. siapkan posisi perawat dengan tepat :
a. berdiri tepat didepan klien.condongkan tubuh ke depan , fleksikan pinggul , lutut dan pergelangan kaki .lebarkan kaki anda dengan satu kaki didepan dan yang lainnya dibelakang . jika memungkinkan buatlah kaki klien sebgai cermin dari kaki perawat . R: untuk mencegah kehilangan keseimabngan sselama pemindahan
b. lingkari punggung klien dengan kedua tangan perawat
c. tegangkan otot gluteal , abdominal , kaki dan lengan anda . siap untuk melakukan pergerakan
5. Bantu klien untuk berdiri , kemudian bergerak bersama-sama menuju kursi roda
a. dalam tiga hitungan
minta klien untuk menghentak bagian kaki belakang , kemudian menuju kaki bagian depan , ekstensikan persendian pada ekstremitas bawah , dan tarik klien tepat menuju pusat gravitasi perawat pada posisi berdiri
b. Bantu klien pada posisi tegak untuk beberapa saat
R: membantu perawat dan klien untu mengekstansikan persendian dan memastikan perawat bahwa klien dalam kondisi yang baik sebelum dipindahkan dari tempat tidur
c. bersma-sama memutar dan mengambil beberapa langkah menuju ke kursi roda
6. bantu klien untuk duduk
a. minta klien untuk :
membelakangi kursi roda
meletakan bagian kaki yang kuat dibelakang kaki yang lebih lemah R: membantu menyangga berat tubuh selama pergerakan
menjaga kaki yang lainnya tetap berada di depan
meletakan kedua tngan di atas lengan kursi roda atau tetap pada bahu perawat
b. berdiri tepat di depan lien . letakan satu kaki di depan dan kaki yang lainnya di belakang
c. tegangkan otot gluteal , abdominal dan lengan
d. Dalam hitngan ketiga
minta k;ien untuk menggeser berat tubuhnya dengan jalan memindahknnya ke kaki bagianbelakang , merendahkan tubuh sampai pada bagian tepi dari kursi roda dengan memflekiskan persendian pada kaki dan lengn bersama –sama dengan
perawat menggeser berat tubuhnya dengan melangkah ke belakang dengan menggunkan kaki depan dan merendhkan klien sampai di atas kursi roda
7. pastikan keselamatan klien
a. minta klien untuk menggeser duduknya sampai pada posisi yang paling aman dan nyaman
b. turunkan tatakan kaki dan letakan kedua kaki klien daiatasnya

Memindahkan Klien Dari
Tempat Tidur Ke Brankar
Pengrtian
Memindahkan klien dari atas tempat tidur ke brankar / kereta dorong dengan maksud tertentu
Tujuan
a. Melaksanakan tindakan perawatan tertentu yang tidak dapat dikerjakan di atas tempat tidur
b. Memindahkan klien pada tempat yang baru
Persiapan alat ;
a. Brankar / kereta dorong
b. Sarung tangan jika perlu
Prosedur Pelaksanaan
1. Atur tempat tidur untuk persiapan pemindahan klien
a. Atur tempat tidur hingga pada posisi yang datar dari bagian kepala sampai bagian kaki
b. Naikan ketinggian tempat tidur sehingga posisinya menjadi lebih tinggi dibandingkan permukaan brankar
c. Pastikan bahwa semua roda tempat tidur sudah terkunci dengan aman
2. Atur posisi klien di tepi tempat tidur dan atur posisi brankar
a. Posisikan klien di tepi tempat tidur , tutupi dengan selimut untuk memberikan kenyamanan dan menjaga privasi
b. tempatkan brankar secara parallel di samping tempat tidur dan kunci semua rodanya
3. Pindahkan klien dengan aman ke brankar
a. Minta klien untuk memfleksikan leher jika memungkinkan dan meletakan kedua tangannya menyilang di atas dada
Mencegah cedera bagian –bagian tubuh ini
b. Dengan bantuan perawat lain , lakukan persiapan untuk mengangkat klien , perawat pertama meletakan kedua tangan di bagian bawah dada dan leher , perawat kedua meletakan kedua tangan di bawah pinggul , dan perawat ketiga meletakan kedua tangan di bawah kaki klien
c. Concongkan tubuh ke depan , fleksikan pinggul , lutut dan pergelangan kaki , perawat pertama memberikan instruksi kemudian angkat klien secara bersama-bersama dari tempat tidur dan pindahkan ke brankar
4. Pastikan keamanan dan kenyamanan klien
a. Buat klien merasa nyaman , segera naikan pagar brankar dan atau kencangkan sabuk pengaman melintang di atas tubuh klien
b. Buka kunci roda klien dan dorong branker menjauhi klien


PENGATURAN POSISI DI TEMPAT TIDUR

A. Posisi Fowler
Pengertian
Posisi Fowler adalah tempat tidur dengan menaikan kepala dan dada setinggi 45 o-90 o tanpa fleksi lutut
Tujuan
1. Membantu mengatasi masalah kesulitan pernapasan dan kardiovaskuler
2. Melakukan aktivitas tertentu ( makan, membaca , menonton televise )
Persiapan alat
1. Tempat tidur
2. Bantal kecil,
3. Gulungan handuk
4. Footboard ( bantalan kecil)
5. Sarung tangan jika diperlukan
Prosedur Pelaksanaan :
1. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan jika diperlukan
Menurunkan transmisi mirooragnisme
2. Minta klien untuk memfleksikan lutut sebelum kepala dinaikan
Mencegah klien melorot ke bawah saat kepala dinaikan
3. Naikan kepala tempat tidur 45 o-90 o sesuai kebutuhan .fowler rendah atau semi fowler ( 15 o-45o).fowler tinggi 90 o
4. Letakan bantal kecil di bawah punggung pada kurva lumbal , jika ada celah di sana
Bantal akan menyangga kurva lumbal dan mencegah terjadinya fleksi lumbal
5. Letakan bantal kecil di bawah kepala klien
Bantal akan menyangga kurva servikal dari koluma vertebra .sebagai alternative , kepala klien dapat diletakan di atas kasur tanpa bantal .terlalu banyak bantal di bawah kepala akan menyebabkan fleksi kontraktur dari leher
6. Letakan bantal di bawah kaki , mulai dari lutut sampai tumit
Memberikan landasan yang lebar , lembut dan fleksibel , mencegah ketidaknyamanan akibat adanya hiperekstensi lutut dan tekanan pada tumit
7. Pastikan tidak ada tekanan pada area poplitea dan lutut dalam keadaan fleksi
Mencegah terjadinya kerusakan pada persarafan dan dinding vena .fleksi lutut mencegah kaki melorot ke bawah
8. Letakan trokhanter roll ( gulungan handuk ) di samping masing-masing paha
Mencegah rotasi eksternal dari pinggul
9. Topang telapak kaki klien dengan menggunakan bantalan kaki
Mencegah fleksi plantar
10. Letakan bantal untuk menopang kedua lengan dan tangan jika klien mengalami kelemahan pada kedua tangan tersebut
11. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
12. Dokumentasikan tindakan




B. Posisi Ortopnea
Pengertian
Posisi Ortopnea adalah adaptasi dari fowler tinggi , klien duduk di tempat tidur atau di tepi tempat tidur dengan meja yang menyilang di atas tempat tidur
Tujuan
1. Membantu mengatasi masalah kesulitan pernapasan dengan memberikan ekspansi dada maksimal
2. Membantu klien yang mengalami masalah ekshalasi
Persipan alat
1. Tempat tidur
2. Bantal kecil
3. Gulungan handuk
4. Bantalan kaki
5. Sarung tangan jika diperlukan
Prosedur Pelaksanaan
1. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan , bila diperlukan
Menurunkan transmisi mikrooraganisme
2. Minta klien untuk memfleksikan lutut sebelum kepala dinaikan
Mencegah klien melorot ke bawah saat kepala dinaikan
3. Naikan kepala tempat tidur 90 o
4. Letakan bantal kecil di atas meja yang menyilang di atas tempat tidur
5. Letakan bantal di bawah kaki , mulai dari lutut sampi tumit
Memberikan landasan yang lebar, lembut dan fleksibel , mencegah ketidaknyamanan akibat adanya hiperekstensi lutut dan dan tekanan pada tumit
6. Pastikan tidak terdapat tekanan pada area popliteal dan lutut dalam keadaan fleksi
Mencegah terjadinya kerusakan pada persarafan dan dinding vena , fleksi lutut membantu klien untuk tidak melorot ke bawah
7. Letakan gulungan handuk di samping masing-masing paha
Mencegah rotasi eksternal dari pinggul
8. Topang telapak kaki klien dengan menggunakan bantalan kaki
Mencegah fleksi plantar
9. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
10. Dokumentasikan tindakan


C. Telentang ( Supinasi )
Pengertian
Adalah klien berbaring telentang dengan kepala dan bahu sedikit elevasi dengan menggunakan bantal
Tujuan
1. Untuk klien pasca operasi dengan anastesi spinal
2. Mengatasi masalah yang timbul akibat pemberian pemberian pronasi yang tidak tepat
Persiapan Alat
1. Tempat tidur
2. Bantal angin
3. Gulungan handuk
4. Bantalan kaki
5. Sarung tangan ( jika perlu )
Prosedur Pelaksanaan
1. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan jika diperlukan
Menurunkan transmisi mikroorganisme
2. Baringkan klien telentang mendatar di tengah tempat tidur
Menyiapkan klien untuk yang tepat
3. Letakan bantal di bawah kepala dan bahu klien
Mencegah hiperekstensi leher
4. Letakan bantal kecil di bawah punggung pada kurva lumbal , jika ada celah di sana
Akan menyangga kurva lumbal dan mencegah terjadinya fleksi lumbal
5. Letakan bantal di bawah kaki , mulai dari lutut sampai tumit
Memberikan landasan yang lebar . Lembut dan fleksibel , mencegah ketidkanyamanan akibat adanya hiperekstensi lutut dan tekanan pada tumit serta mengurangi lordosis lumbal
6. Topang telapak kaki klien dengan menggunakan bantalan kaki
Mencegah fleksi plantar
7. Jika klien tidak sadar atau mengalami paralysis ekstremitas atas , elevasikan tangan dan lengan bawah ( bukan lengan atas ) dengan menggunakan bantal.
Mencegah terjadinya edema dan memberikan kenyamanan .bantal tidak diletakan di bawah lengan atas karena dapat menyebabkan terjadinya fleksi bahu
8. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan anda
9. Dokumentasikan tindakan anda

D. Telungkup ( Pronasi )
Pengertian
Adalah klien berbaring di atas abdomen dengan kepala menoleh ke samping
Tujuan
a. Memberikan ekstensi penuh pada persendian pinggul dan lutut
b. Mencegah fleksi kontraktur
c. Membantu drainase dari mulut sehingga berguna bagi klien pasca operas mulut atau tenggorokan
Persiapan Alat
a. Tempat tidur
b. Bantal kecil
c. Gulungan handuk
d. Sarung tangan ( jika diperlukan )
Prosedur Pelaksanaan
1. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan , jika diperlukan
Menurunkan transmisi mikroorganisme
2. Baringkan klien telentang mendatar di tengah tempat tidur
Menyiapkan klien untuk yang tepat
3. Gulingkan klien dan posisikan lengan dekat dengan tubuhnya disertai siku lurus dan tangan di atas paha .posisikan tengkurap /telungkup di tengah tempat tidur yang datar
Memberikan pada klien sehingga kelurusan tubuh dapat dipertahankan
4. Putar kepala klien ke salah satu sisi dan sokong dengan bantal , jika banyak drainase dari mulut , mungkin pemberian bantal dikontra indikasikan .
Mencegah fleksi lateral leher , hindari meletakan bantal di bawah bahu untuk menecegah peningkatan resiko lordosis lumbal
5. Letakan bantal kecil di bawah abadomen pada area antara diafragma (
atau payudara pada wanita ) dan krista iliaka
mencegah hiperekstensi kurva lumbal , kesulitan pernapasan , penekanan
pada payudara wanita
6. Letakan bantal dibawah kaki , mulai lutut sampai tumit
Mengurangi fleksi plantar , memfleksikan lutut sehingga sehingga memberikan kenyamanan dan mencegah tekanan yang berlebihan pada patella
7. Jika klien tidak sadar atau mengalami paralysis ekstremitas atas , elevasikan tangan dan lengan bawah ( bukan lengan atas ) dengan menggunakan bantal . Mencegah terjadinya edema dan memberikan kenyamanan . Bantal tidak diletakan di bawah lengan atas karena dapat menyebabkan fleksi bahu
8. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
9. Dokumentasikan tindakan

E. Lateral ( Side –Lying )
Pengertian
Adalah klien berbaring pada salah satu sisi bagian tubuh dengan kepala menoleh ke samping
Tujuan
a. Mengurangi lordosis dan meningkatkan kelurusan punggung yang baik
b. Baik untuk tidur dan istrahat
c. Mambantu menghilangkan tekanan pada sacrum dan tumit
Persiapan Alat
a. Tempat tidur
b. Bantal kecil
c. Gulungan handuk
d. Sarung tangan ( jika diperlukan )
Prosedur pelaksanaan
1. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan , jika diperlukan
Menurunkan transmisi mikro organisme
2. Baringkan klien telentang mendatar di tengah tempat tidur
Menyiapkan klien untuk untuk yang tepat
3. Gulingkan klien hingga miring
4. Letakan bantal di bawah kepala dan leher klien
Mencegah fleksi lateral dan ketidaknyamanan pada otot – otot leher
5. Fleksikan bahu bawah dan posisikan ke depan sehingga tubuh tidak menopang pada bahu tersebut
6. Letakan bantal di bawah lengan atas
Mencegah rotasi internal dan adduksi bahu serta penekanan pada dada
7. Letakan bantal di bawah paha dan kaki atas sehingga ekstremitas bertumpu secara parallel dengan permukaan tempat tidur
Mencegah rotasi interna dari paha dan adduksi kaki . Mencegah penekanan secara langsung kaki atas terhadap kaki bawah
8. Letakan bantal guling di belakang punggung klien untuk menstabilkan posisi
9. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
10. Dokumentasikan tindakan.

F. Posisi sims
Pengertian
Disebut juga semi pronasi adalah klien berbaring pada pertengahan lateral dan pronasi . pada ini lengan bawah ada di belakang tubuh klien
Tujuan
a. Memfasilitasi drainase dari mulut dari pasien tidak sadar
b. Mengurangi penekanan pada sacrum dan trokhanter mayor pada klien yang mengalami paralysis
c. Memudahkan pemeriksaan dan perawatan areal perineal
d. Untuk tindakan pemberian enema
Persiapan Alat
a. Tempat tidur
b. Bantal kecil
c. Gulungan handuk
d. Sarung tangan ( jika diperlukan )
Prosedur Pelaksanaan
1. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan jika diperlukan
Menurunkan transmisi mikroorganisme
2. Beringkan klien telentang mendatar di tengah tempat tidur
Menyiapkan klien untuk yang tepat
3. Gulingkan klien hingga posisinya setengah telungkup , sebagian berbaring pada abdomen
4. Letakan bantal di bawah kepala klien
Mencegah fleksi lateral dan penekanan pada tulang wajah dan telinga ( catatan : pemakaian bantal dapat menjadi kontra indikasi jika pengaturan ini bertujuan mengalirkan drainase dari mulut )
5. Atur bahu atas sehingga bahu dan siku fleksi
6. Letakan bantal di sela antara dada dan abdomen dan pada lengan atas serta tempat tidur
Mencegah rotasi internal dan adduksi bahu
7. Letakan bantal antara area paha atas dan tempat tidur
Mencegah rotasi internal dan adduksi pinggul
8. Letakan alat penopang di bawah telapak kaki klien
Mencegah fleksi plantar
9. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
10. Dokumentasikan tindakan

G. Posisi Trendelenburg
Pengertian
Adalah membaringkan pasien dengan kepala lebih rendah dari pada kaki
Tujuan
Melancarkan peredaran darah
Dilakukan Pada :
1. Pasien shock
2. Pasien yang dipasang skin traksi pada kakinya
Persiapan Alat :
1. Balok penopang kaki tempat tidur
2. Bantal
3. Tempat tidur khusus
Prosedur Kerja :
1. Pasien diberi penjelasan tentang hal-hal yang akan dilakukan
2. Cuci tangan
3. Pasien dalam keadaan telentang
4. Tempatkan bantal diantara kepala dan ujung tempat tidur
5. Tempatkan bantal di bawah lipatan lutut pasien
6. Tempatkan balok penopang di bagian kaki tempat tidur
7. Atau atur tempat tidur khusus dengan meninggikan bagian kaki pasien
8. Cuci tangan

H. Posisi Dorsal Recumbent
Pengertian
Membaringkan pasien dengan posisi telentang dengan lutut ditekuk dan telapak kaki menapak di atas tempat tidur sedangkan kedua belah kaki direnggangkan
Tujuan
1. Mempermudah tindakan pemeriksaan dan perawatan pada daerah genitalia
2. Mempermudah proses persalinan pada pasien yang akan bersalin
Persiapan Alat
1. Bantal
2. Tempat tidur khusus
3. Selimut
Prosedur Kerja
1. Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan
2. Cuci tangan
3. Pasien dalam keadaan berbaring telentang
4. Pakaian bagian bawah dibuka
5. Tekuk lutut dan direnggangkan
6. Pasang selimut mandi untuk menutupi area genitalia
7. Cuci tangan setelah prosdur dilaksanakan

I.Posisi Litotomi
Pengertian
Membaringkan pasien dengan posisi telentang dengan kedua paha diangkat dan ditarik kea rah perut sedangkan tungkai bawah membuat sudut 90 o terhadap paha
Tujuan
1. Pemeriksaan genitalia
2. Proses persalinan
3. Pemasangan alat kontrasepsi
Persiapan Alat
1. Bantal
2. Tempat tidur khusus
3. Selimut /kain penutup
Prosedur Kerja
1. Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan
2. Cuci tangan
3. Pasien dalam keadaan berbaring telentang
4. Angkat kedua paha dan tarik ke atas abdomen
5. Tungkai bawah membentuk sudut 90 o terhadap paha
6. Letakan bagian lutut / kaki pada penyangga kaki tempat tidur khusus untuk posisi litotomi
7. Pasang selimut
8. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

J.Posisi Genu Pectoral ( Knee Chest )
Pengertian
Membaringkan pasien dengan posisi menungging , kedua kaki ditekuk dan menempel pada kasur
Tujuan
Pemeriksaan daerah rectum dan sigmoid
Persiapan alat
1. Tempat tidur
2. Selimut
Prosedur Kerja
1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada pasien
2. Cuci tangan
3. Minta pasien untuk menungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada menempel pada matras tempat tidur
4. Pasang selimut untuk menutupi daerah perineal pasien
5. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan











Latihan Rentang Gerak
Berjalan
memabntu klien berjalan
menggunakan alat Bantu berjalan
mengukur kruk
mengajarkan gaya berjalan dengan kruk
mengajarkan gaya berjalan dengan kruk di tangga
mengajarkan duduk dengan menggunakan kruk

mengurangi bahaya imobilisasi
system metabolic
system perenapasan
meningkatkan ekspansi dada dan paru
mencegah secret stasis pulmonal
mempertahankan kepatenan jalan napas
system kardiovaskuler
mengurangi hipotensi ortostatik
mengurangi beban kerja jantung
mencegah pembentukan trombus
sistem muskulskeletal
system integument
system eliminasi
perubahan psikososial
perubahan perkembangan




EVALUASI
Untuk mengevaluasi hasil dan respon dari asuhan keperawatan . perawat mengukur efektifitas dari semua intervensi . tujuan dan criteria hasil adalah kemampuan untuk mempertahankan atau meningkatkan kesejajaran tubuh dan mobilisasi sendi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar